Sejarah Muara Muntai (Kutai Kartanegara) erat kaitannya dengan Sungai Mahakam sebagai jalur perdagangan penting sejak dahulu, menjadi pos strategis bagi pedagang Cina dan Belanda yang mendirikan pabrik ikan asin, dengan nama “Muntai” diduga berasal dari nama penjaga utusan Raja Parikesit, dan kini tetap mengandalkan sungai untuk ekonomi, meski jalur darat telah ada sejak 1990-an. Penduduknya mayoritas suku Kutai dan Banjar, hidup dari perikanan dan hasil hutan, serta memiliki sejarah migrasi yang tercatat pada abad ke-19.
Asal-usul Nama
- Nama “Muntai”: Diambil dari nama seseorang bernama Muntai yang ditugaskan oleh Raja Parikesit di pos jaga perbatasan di muara Sungai Mahakam.
Masa Kolonial
- Pusat Perdagangan: Lokasi strategis di Sungai Mahakam menjadikannya transit dan pusat pertukaran barang, bahkan dilirik Belanda.
- Aktivitas Belanda: Belanda mendirikan gudang garam untuk pembuatan ikan asin, menunjukkan pentingnya sumber daya perikanan di sana.
Perkembangan Wilayah
- Jalur Sungai: Dahulu, masyarakat sepenuhnya bergantung pada sungai untuk transportasi dan ekonomi (nelayan, pedagang).
- Jalur Darat: Akses darat dari Tenggarong dibangun tahun 1990, namun sungai tetap menjadi urat nadi kehidupan.
- Pemukiman Padat: Menjadi pemukiman padat karena fungsinya sebagai tempat transit dan perdagangan.
Penduduk dan Budaya
- Suku: Mayoritas penduduknya adalah Suku Kutai Muara Muntai dan Banjar, dengan minoritas Flores, Dayak Benuaq, dan Jawa.
- Kehidupan Tradisional: Bergantung pada sektor perikanan di Sungai Mahakam dan danau sekitar, bahkan saat ini.
Sejarah Migrasi (Legenda)
- Perintah Raja: Tercatat pada 1828, Sempangan diperintahkan Raja Kutai untuk pindah ke Muara Muntai, yang diikuti pembakaran rumah-rumah di Tanjung Sunring dan sekitarnya, lalu bermusyawarah menuju Muara Aloh.